reader
mencari di Mengarti.blogspot.com gunakan mesin cari ini , di dikung oleh google
Mengarti.blogspot.com        حَسْـــبُنَا الله        بِـــــــــسْمِ الله  ~  اَلْحَمْـــــــــدُ لِله
cukuplah bagi kami ALLAH

4 Oktober 2012

kisah pengingkaran dan sifat lupa adam

Di halaman ini menceritakan tentang kisah pengingkaran dan sifat lupa adam dan pelajaran / hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini. perihal ini bersumber dari al-quran dan hadits.

PENGANTAR
Para ahli purbakala pada zaman ini menelusuri kota-kota yang lenyap dan sisa-sisa umat terdahulu agar mereka mengenal kehidupan nenek moyang, mengetahui keadaan dan kondisi mereka. Di samping minimnya informasi yang berhasil mereka gali, ia juga ilmu yang tidak murni sehingga tidak menampakkan hakikat dan tidak menyisir kabut kelam yang menyelimutinya. Ia tidak kuasa menyibak tabir masa lalu yang dalam dengan kepastian. Lain urusannya dengan kedatangan wahyu Allah untuk membawa berita orang-orang terdahulu. Hal itu merupakan kekayaan tak ternilai harganya, karena ia menyuguhkan sesuatu yang nyata dalam keadaan bersih dan murni. Ia adalah ilmu yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Mengenal lagi Maha Mengetahui, di mana tidak sesuatu pun di langit dan di bumi yang samar dari-Nya.

Sebagian ilmu ini tidak mungkin ditembus dengan jalan selain wahyu. Di antaranya, sebagian berita tentang bapak kita, Adam ‘Alayhi Salam, tentang sebagian tabiat dan ciri-cirinya yang kita warisi darinya. Sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita sebagian syariat untuknya dan untuk anak cucu sesudahnya.

NASH HADIS
Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Salam bersabda,
"Manakala Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa yang Allah akan menciptakannya dari anak cucunya sampai hari Kiamat. Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing- masing orang kilauan cahaya. Kemudian mereka dihadapkan kepada Adam. Adam berkata, 'Ya Rabbi, siapa mereka?' Allah menjawab, 'Mereka adalah anak cucumu." 
Lalu Adam melihat seorang laki-laki dari mereka. Dia mengagumi kilauan cahaya yang memancar di antara kedua matanya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi siapa ini?’ Allah menjawab, ’Ini adalah laki-laki dari kalangan umat terakhir dari anak cucumu yang bernama Dawud.’ Adam bertanya, ’Ya Rabbi, berapa Engkau beri dia umur?’ Allah menjawab, ’Enam puluh tahun.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, tambahkan untuknya dari umurku empat puluh tahun.’ Manakala umur Adam telah habis, dia didatangi oleh Malaikat maut. Adam berkata, ’Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?’ Malaikat menjawab, ’Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Dawud?’ 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ’Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah."
Abu Isa berkata, "Ini adalah hadis hasan shahih. Ia telah diriwayatkan tidak dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam."

Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bersabda, "Ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya, dia bersin, dia berkata 'Alhamdulillah', dia memuji Allah dengan izin-Nya. Maka Tuhannya berfirman kepadanya, 'Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam. Pergilah kepada para Malaikat itu, sebagian mereka yang sedang duduk. Katakanlah, 'Assalamu'alaikum'. Mereka menjawab, 'Wa alaikas salamu warahmatihi'. Lalu Adam kembali kepada Tuhannya, dan Dia berfirman, 'Sesungguhnya itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak-anakmu di antara mereka.’

Lalu Allah berfirman kepada Adam, sementara kedua tangan-Nya mengepal, ’Pilih satu dari keduanya yang kamu kehendaki.’ Adam menjawab, ’Aku memilih tangan kanan Tuhanku dan kedua tangan Tuhanku adalah kanan yang penuh berkah.’ Kemudian Allah membukanya. Ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi, siapa mereka?’ Allah menjawab, ’Mereka adalah anak cucumu.’ Ternyata umur semua manusia telah tertulis di antara kedua matanya. Di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang paling cerah cahayanya atau termasuk yang paling terang cahayanya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi, siapa ini?’ Allah menjawab, ’Ini adalah anakmu Dawud dan Aku telah menulis umurnya empat puluh tahun.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, tambahkan umurnya.’ Allah berfirman, ’Itu yang telah Aku tuliskan untuknya.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, aku memberikan umurku enam puluh tahun kepadanya.’ Allah berfirman, ’Itu urusanmu.’
Nabi SAW bersabda, "Lalu Adam diminta tinggal di Surga sekehendak Allah, kemudian dia diturunkan darinya. Maka Adam menghitung sendiri umurnya. Manakala Malaikat maut datang, Adam berkata kepadanya, 'Kamu telah tergesa-gesa. Aku telah diberi umur seribu tahun.’ Malaikat menjawab, ’Tidak, tetapi kamu telah memberikan enam puluh tahun umurmu kepada anakmu Dawud.’ Lalu Adam mengingkari, maka anak cucunya mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya lupa. Dia berkata, ’Sejak saat itu diperintahkan untuk menulis dan saksi-saksi."
Tirmidzi berkata, "Ini adalah hadis hasan gharib dari jalan ini. Ia telah diriwayatkan bukan dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari riwayat Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam."

TAKHRIJ HADIS
Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Al-A'raf, 4/267. Lihat Shahih Sunan Tirmidzi, 3/52, no. 3282.
Hadis kedua diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Muawwidzatain, 4/453. Lihat Shahih Sunan Tirmidzi, 3/137, no. 3607.

PENJELASAN HADIS
Allah menciptakan Adam dalam keadaan sempurna dan lengkap. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang yang tidak berilmu, bahwa manusia berevolusi dari hewan atau tumbuhan. Allah menciptakannya dari saat pertama dia diciptakan sebagai seorang yang berakal dan berbicara, dia memahami apa yang dikatakan kepadanya dan dia menjawab dengan benar.

Setelah ruh ditiupkan kepadanya, Adam bersin, maka dia memuji Allah Azza wa Jalla. Allah menjawabnya, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam." Allah memerintahkan Adam agar pergi ke sekumpulan Malaikat yang sedang duduk dan mengucapkan salam kepada mereka. Para Malaikat pun membalas penghormatannya dengan penghormatan yang lebih baik. Dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa hal itu adalah penghormatannya dan penghormatan di antara anak cucunya. Adam berjalan, mendengar, berbicara, bersin, mengerti dan memahami perkataan.

Anda lihat dalam hadis, betapa besar perhatian Allah kepada hamba-Nya, Adam. Dia berfirman kepadanya manakala dia bersin, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam." Dan barangsiapa dirahmati oleh Tuhannya, maka dia mendapatkan perhatian, perlindungan dan kemuliaan-Nya. Oleh karenanya, Allah menerima taubatnya manakala dia terpeleset dari jalan lurus kemudian Adam kembali kepada-Nya. Allah juga memaafkan kelalaian kita dan mendukung kita dengan ruh dari-Nya.

Allah telah mensyariatkan untuk Adam ketika berada di Surga dan anak cucunya agar ber-tahmid jika bersin dan didoakan rahmat jika telah mengucapkan tahmid. Dan Allah telah menjadikan salam sebagai penghormatan anak cucu dan keturunan sesudahnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyampaikan kepada kita bahwa Allah mengusap punggung Adam, maka berjatuhanlah semua jiwa dari anak cucu Adam yang akan diciptakan darinya sampai hari Kiamat. Allah memegang itu dengan Tangan kanan-Nya dan Adam diberi pilihan antara kedua genggaman Tuhannya, maka dia memilih Tangan kanan Tuhannya dan kedua Tangan Allah adalah kanan yang penuh berkah. Manakala Allah membukanya, ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya.

Adam melihat anak cucunya yang akan diciptakan sesudahnya dan Allah telah menjadikan cahaya di antara kedua mata masing-masing. Adam juga melihat umur masing-masing telah tertulis di antara kedua mata mereka. Adam melihat seorang laki-laki dengan cahaya yang bagus. Dia bertanya tentangnya. Maka Allah memberitahukan bahwa dia adalah salah satu putranya yang akan muncul di sebuah umat sebagai salah satu umat terakhir. Putra itu bernama Dawud, yang diberi umur enam puluh tahun (dalam riwayat lain, empat puluh). Riwayat pertama lebih shahih. Adam merasa umur Dawud pendek, dia pun memohon kepada Allah agar menambah umur Dawud. Allah menyatakan bahwa itulah umur yang ditetapkan untuk Dawud. Lalu Adam memberikan sebagian umurnya kepada Dawud untuk menggenapinya menjadi seratus.

Nampak dari hadis tersebut bahwa Allah memberitahu Adam tentang umur yang ditulis untuknya, bahwa dia akan hidup seribu tahun. Manakala umurnya telah mencapai seribu tahun kurang empat puluh, Malaikat maut datang kepada Adam untuk mencabut nyawanya. Adam pun menyangkal keinginan Malaikat maut. Dia membantah Malaikat yang hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya tiba. Nampak pula dari hadis tersebut bahwa Adam menghitung sendiri umurnya tahun demi tahun. Maka Adam mengingkarinya karena lupa. Dan anak cucu Adam mewarisi sifat-sifat bapak mereka. Mereka mengingkari seperti Adam mengingkari. Mereka lupa seperti Adam lupa. Oleh karena itu, Allah memerintahkan penulisan dan kesaksian untuk mengantisipasi pengingkaran orang-orang yang ingkar dan kelupaan orang-orang yang lupa.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Allah menciptakan Adam secara lengkap dan sempurna sejak awal penciptaannya. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang sesat, bahwa Adam diciptakan tidak sempurna, kemudian berkembang menuju kesempurnaan dalam rentang waktu yang panjang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menyampaikan kepada kita bahwa di antara kesempurnaan penciptaan Adam, adalah diciptakannya dia dengan tinggi enam puluh hasta di langit dan bahwa manusia setelah Adam terus menerus menyusut sampai pada ukuran manusia saat ini. Pada hari Kiamat Allah memasukkan orang-orang mukmin ke Surga dengan bentuk penciptaan yang sempurna seperti penciptaan Allah terhadap Adam.
  2. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Salam bersabda, "Allah menciptakan Adam dan tingginya adalah enam puluh hasta, kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Pergilah, ucapkan salam kepada para Malaikat itu. Dengarkanlah penghormatan mereka kepadamu, karena itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak cucumu.’ Maka Adam berkata, 'Assalamu'alaikum.’ Mereka menjawab, 'Assalamu 'alaika wa rahmatullah dengan tambahan 'Warahmatullah'. Dan semua orang yang masuk Surga dengan bentuk penciptaan Adam. Dan manusia terus menerus menyusut sampai saat ini." Diriwayatkan oleh Bukhari, 3/11, no. 6277, 6/332, no. 3326. Diriwayatkan oleh Muslim, 4/2183, no. 2841.
  3. Kebenaran yang aku sebutkan di atas, bahwa Adam diciptakan secara sempurna sejak dihembuskannya ruh kepadanya ditunjukkan oleh hadis tersebut. Allah menciptakan Adam dalam bentuk penciptaan yang sempurna. Dia tidak berkembang dan tidak berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari satu ciptaan ke ciptaan yang lain. Lain halnya dengan anak cucunya, Allah menciptakan mereka di dalam rahim ibu dalam bentuk setetes air, kemudian segumpal darah, kemudian seonggok daging, kemudian setelah dihembuskannya ruh, Dia menumbuhkannya sebagai makhluk lain.
  4. Mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bapak kita, Adam, di antaranya adalah bersinnya Adam, ucapan ’alhamdulillah’, jawaban Allah kepadanya ( رحمك   لِله), salamnya kepada para Malaikat, juga jawaban Malaikat kepadanya. Allah mengusap punggungnya dan peristiwa-peristiwa lain yang dikandung oleh hadis ini.
  5. Orang yang bersin mengucapkan hamdalah. Orang yang mendengarnya mengucapkan, " رحمك   لِله" dan penghormatan salam termasuk syariat alami (internasional) yang dimiliki oleh seluruh syariat, tidak khusus untuk satu umat tertentu dan itu termasuk warisan bapak mereka, Adam ‘Alayhi Salam.
  6. Penetapan takdir. Allah mengetahui hamba-hamba- Nya pada masa azali dan Dia menulis hal itu di sisi- Nya. Dia menunjukkan kepada Adam tentang anak cucunya sesudahnya, dan umur setiap orang telah ditulis di antara kedua matanya.
  7. Penetapan dua Tangan bagi Allah dan Dia menggenggam keduanya, kapan Dia berkehendak dan bagaimana Dia berkehendak tanpa takyif (bertanya bagaimana) dan ta'thil (mengingkari). Tiada sesuatu pun yang menyerupai Dia. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
  8. Keutamaan Nabiyullah Dawud dan besarnya iman yang dimilikinya dibuktikan dengan kuatnya cahaya di antara kedua matanya.
  9. Kemampuan Adam berhitung. Dia menghitung tahun-tahun umurnya. Dia mengetahui umurnya yang telah berlalu dan yang tersisa. Dia membantah Malaikat maut ketika hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya sempurna.
  10. Keterangan tentang umur Adam. Dia hidup seribu tahun. Ini merupakan pelurusan terhadap keterangan Taurat, yang disebutkan di dalam Ishah kelima buku penciptaan bahwa umurnya adalah 930 tahun. Yang benar adalah yang disebutkan oleh hadis. Hadis ini juga menjelaskan umur Dawud.
  11. Tabiat Adam dan anak cucunya adalah pengingkaran dan kelupaan.
  12. Disyariatkannya menulis dalam akad dan muamalat untuk mengantisipasi pengingkaran dan sifat lupa manusia.


Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma

3 Oktober 2012

pentingnya kisah al-quran dan hadis

Kisah terbaik adalah kisah-kisah Al-Qur'an yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu." (QS. Yusuf: 3)
Dan kisah-kisah dari hadis nabawi berada setelah urutan kisah-kisah Al-Qur'an. Banyak orang yang terbiasa membaca kisah hanya untuk hiburan dan kenikmatan sesaat, karena mereka hanya mengetahui bahwa mayoritas kisah-kisah bukanlah wujud dari realita, semata-mata karangan dan imajinasi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kisah yang tidak mungkin terjadi, seperti kisah khayalan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadiannya.

Kisah-kisah rakyat yang diceritakan dari orang-orang terdahulu, khususnya orang-orang Romawi dan Persia, termasuk di dalam kisah model ini, sering disebut dengan kisah takhayul. Termasuk dalam hal ini juga adalah kisah seribu satu malam. Di kalangan orang-orang Arab ada kisah Antarah dan kisah Abu Zaid Al-Hilali. Kisah seperti ini masih mempunyai keberadaan yang kuat pada masa kini. Penulis saat ini telah menemukan apa yang dinamakan dengan khayalan ilmiah, si penulis membayangkan sesuatu yang bisa dicapai oleh manusia pada masa yang akan datang dan memaparkan keadaan manusia pada
waktu itu.

Kisah-kisah di dalam Al-Qur'an dan hadis yang shalih, semuanya adalah kebenaran dan kejujuran. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi tanpa dikurangi dan ditambahi. 
"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya." (QS. Al-Kahfi: 13). "Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar." (QS. Ali Imran: 62).
Kisah bukanlah suatu kebenaran kecuali jika ia disampaikan oleh penyampai tanpa tambahan di dalamnya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersucikan dari dusta. Maka, tidak mungkin Dia menceritakan kisah yang tidak terjadi. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dia menyaksikan dan melihat. Oleh karena itu, ketika Dia menyampaikan kisah kepada kita, maka Dia menyampaikan dengan ilmu sebagai Dzat yang
menyaksikan dan melihat. 
"Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (QS. Al-A'raf: 7)
Jikalau manusia meyakini bahwa kisah-kisah Al-Qur'an yang disampaikan kepada mereka dan kisah-kisah dari hadis Rasul yang sampai kepada mereka, semuanya adalah benar dan jujur, maka ia akan mempunyai pengaruh besar dalam meluruskan jiwa mereka. Ia bisa mengatur tabiat mereka dengan mengambil nasihat-nasihat dan pelajaran-pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya agar menyampaikan kisah-kisah yang diketahuinya kepada manusia, agar mereka merenungkan keadaan orang- orang yang telah berlalu, lalu mereka mengukur diri dengan mereka dan mengambil pelajaran untuk diri mereka. Jika mereka adalah orang-orang dzalim, maka mereka menjauhi jalan hidup mereka. Dan jika mereka adalah orang-orang baik, maka mereka harus diteladani.
"Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al-A'raf: 176).
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran orang- orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah berita yang dibuat-buat." (QS. Yusuf: 111)
Para Rasul dan para dai mengambil pelajaran dari kisah orang-orang terdahulu. Kisah-kisah Al-Qur'an dan hadis nabawi masih dan selalu menjadi bekal yang menyirami jiwa dan meneguhkan hati. Sebagaimana firman Allah,
"Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu." (QS. Hud: 120).
Kehidupan manusia di muka bumi mempunyai kemiripan dalam kelurusan dan penyimpangannya. Contoh-contoh kemanusiaan, baik yang lurus maupun yang serong, adalah contoh-contoh yang berulang. Oleh karena itu, Al-Qur'anul Karim dan hadis nabawi, kedua-duanya memberikan kepada kita berita-berita di mana kita mendapati diri kita di dalamnya atau mendapati padanya orang-orang di sekeliling kita. Seolah-olah nash-nash itu di samping menceritakan kisah fulan juga menyampaikan kepada kita tentang ujian yang kita rasakan atau kemakmuran yang kita enyam atau ia menyampaikan kepada kita tentang pemimpin yang adil yang hidup di antara kita atau pemimpin yang congkak lagi lalim yang mondar-mandir sebagai perusak di bumi. Kadang ia menyampaikan kepada kita tentang kisah kemanusiaan yang biasa. Bisa jadi yang dibahas adalah seorang petani yang shalih, atau pedagang yang jujur dan amanah, atau seorang manusia yang penuh kasih sayang. Contoh ini
bisa kita lihat pada seorang petani kenalan kita atau pedagang relasi kita atau seorang laki-laki di mana kita mendapatkan serpihan kasih sayangnya.

Kisah-kisah Al-Qur'an dan hadis menampilkan potret nyata dan riil yang menggariskan ajaran-ajaran Al-Qur'an dalam fenomena yang berdenyut seiring hidup itu sendiri. Dan banyak manusia yang melihat kebenaran melalui kenyataan riil secara lebih gamblang daripada melalui pembelajaran-pembelajaran yang ala kadarnya. Oleh karena itu, seseorang yang lurus kadang-kadang perilakunya lebih berpengaruh bagi orang lain, daripada pengaruh ucapannya.


Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma

pentingnya kisah


PENTINGNYA KISAH , Kisah merupakan sebuah warna adab (sastra). Manusia memberinya perhatian tidak seperti kepada bidang yang lainnya. Kisah disukai oleh jiwa manusia, memiliki nilai pengaruh yang tinggi. Jiwa menggemarinya, hati menyukainya, serta telinga membuka pintunya lebar-lebar.

Karena posisinya yang penting, maka pada masa kini model-modelnya semakin beragam. Ada yang disebut riwayat, yaitu kisah yang panjang (bersambung), pemerannya banyak, dan terdapat jaringan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian. Ada kisah pendek yang sering disebut cerpen. Ada pula kisah fiksi, kisah nyata, kisah perlambang. Termasuk kisah fiksi adalah kisah-kisah tentang hewan (fabel) di mana penulis menjadikan pahlawannya adalah hewan-hewan yang bisa berbicara, berpikir, mengatur dan melontarkan kata-kata mutiara. Dewasa ini banyak sekali penulisan kisah. Sebagian besar dirubah menjadi sandiwara-sandiwara dan film-film, yang memerankan peristiwa seperti kejadiannya atau seperti yang dibayangkan oleh pemiliknya. Ditampilkan di gedung-gedung bioskop dan layar TV. Dan kisah-kisah  yang ditampilkan ini membawa akidah, pemikiran, akhlak dan nilai-nilai para penulisnya. Banyak negara mulai menyebarkan pengetahuan dan nilai-nilainya melalui kisah-kisah yang difilmkan, melalui buku-buku dan majalah-majalah, untuk mengikat hati dan akal orang-orang agar menjadi pengikutnya yang mengalir di orbitnya.


Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma

metode kisah


METODE KISAH Para pengkaji di dalam bidang kisah merangkum metode yang menjadi ciri pembeda antara kisah dengan bidang-bidang adab lainnya. Sebagian pengkaji telah menuangkan ciri-ciri tersebut sebagai berikut:
  1. Ciri umum bagi metode periwayatan, yaitu mengalir dan berantai di mana pembaca merasa digiring ke muara; dia menunggu dan menanti akhirnya.
  2. Kisah tersusun secara terangkai dan bersifat simpel, membuang perincian-perincian yang tidak perlu.
  3. Kisah mempunyai target sasaran utama yang bisa diraba secara tidak langsung dari konteks pemaparan.
  4. Ungkapan-ungkapannya mesti jelas dan mudah, karena pembaca lebih fokus kepada alur peristiwa kisah.
  5. Keragaman ungkapan antara lembut dan keras sesuai dengan kondisi dan kepribadian.
  6. Metode pemaparan beragam, antara dialog dan pemaparan.
  7. Di antara metode kisah adalah metode berlebih-lebihan yang terkadang dipakai untuk menarik perhatian terhadap sisi-sisi penting, begitu pula Mu'jamul Ulumil Lughoh Al-Arabiyah, Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar,  hlm. 320. metode keterkejutan dan isyarat yang membuka ruang bayangan.
  8. Cinta terkadang masuk ke dalam kisah karena kekuatannya sebagai faktor penunjang. Cinta merupakan perasaan humanis yang universal.

Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma

definisi kisah

DEFINISI KISAH Kata kisah berasal dari bahasa Arab, yaitu " قصة ", dan bentuk jamaknya adalah " قصص " dengan qaf dibaca kasrah. Kisah dalam bahasa Arab adalah berita-berita yang diriwayatkan dan diceritakan. Al-Qur'an telah menamakan berita-berita umat terdahulu yang disampaikan kepada kita dengan sebutan kisah. 
Firman Allah, 
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu sebagian kisah umat yang telah lalu." (QS. Thaha: 99)
"Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepadamu (Muhammad), di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah." (QS. Huud: 100)
"Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu." (QS. Huud: 120)
"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik." (QS. Yusuf: 3)
Dan Allah menamakan pemberitahuan Musa tentang peristiwa-peristiwa dirinya kepada bapak dua orang wanita yang telah dibantunya memberi minum ternak dengan sebutan kisah, 
"Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya dan menceritakan kepadanya cerita darinya." (QS. Al-Qashash: 25)
Asal kisah menurut orang Arab adalah penelusuran jejak. Orang yang ahli dalam urusan jejak berjalan di belakang orang yang hendak diungkap beritanya, maka dia menelusuri jejaknya sampai dia berhenti di tempat dia tinggal. Dan mengutarakan berita-berita disebut kisah karena pembawanya menelusuri peristiwa-peristiwa kisah seperti apa yang terjadi. Dia menelaah lafazh- lafazh dan makna-maknanya. Oleh karena itu, seseorang bukanlah pembawa kisah yang sebenarnya kecuali jika dia membawa peristiwa-peristiwa yang diceritakannya sesuai dengan kejadian sebenarnya. Al-Qur'an menamakan penelusuran jejak dengan qashash (kisah-kisah) dalam firman-Nya, 
"Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula." (QS. Al-Kahfi: 64).
Yang dibicarakan dalam ayat ini adalah Musa dan temannya, ketika keduanya mengetahui bahwa tempat yang ditentukan oleh Allah bagi keduanya untuk menemui seorang hamba yang shalih telah terlewati, maka keduanya kembali menelusuri jejak mereka sendiri agar bisa kembali dengan jalan sama yang telah mereka lalui agar bisa sampai kepada hamba shalih tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah firman Allah Taala, 
"Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara perempuan Musa, 'Ikutilah dia'." (QS. Al-Qashash: 7).
Si pemberi perintah di sini adalah ibu Musa, kepada saudara perempuan Musa agar menelusuri jejak saudaranya, Musa. Dia ditaruh di peti lalu dihanyutkan di sungai. Demikian juga mengeksekusi pembunuh, yang disebut dengan qishash. Karena keluarga korban mengikuti perbuatan pembunuh, maka mereka memperlakukan pelaku seperti dia memperlakukan korban. Orang-orang Arab menganggap setiap pengutaraan berita sebagai kisah. Hanya saja, jika memperhatikan pemakaian ahli ilmu dan adab (sastra), maka didapatkan bahwa kisah merupakan warna tersendiri yang mempunyai tabiat khusus dari suatu cerita. Jadi, setiap kisah adalah berita dan tidak semua berita adalah kisah. Penciptaan langit, bumi, Malaikat, dan jin yang Allah sampaikan kepada kita adalah berita, bukan kisah. Nama-nama para Nabi dan Rasul serta nama-nama bapak mereka yang Allah sampaikan kepada kita adalah berita, bukan kisah. Adapun berita-berita para Rasul bersama kaum mereka, pergolakan antara kelompok yang baik dan buruk disebut dengan kisah dan juga berita. Kisah didefinisikan dengan ilmu menceritakan peristiwa-  peristiwa dan perbuatan-perbuatan dengan metode bahasa tertentu yang berujung pada target tertentu. Kisah adalah ilmu sastra yang sangat tua umurnya. Selalu menyertai umat-umat manusia dari zaman primitif sampai masa puncak peradaban. Ia memiliki posisi yang istimewa di antara bidang-bidang (sastra lainnya), karena keluasan dan cakupannya terhadap tujuan-tujuan yang berbeda-beda. Metode bahasanya indah dan ringan bagi jiwa. Al-Qur'an telah mencapai puncak kisah tertinggi dan terlengkap.


Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma

30 September 2012

Keutamaan Shalat Shubuh Dan Ashar

kitab riyadhus shalihin yang menerangkan tentang:
Bab 188

Keutamaan Shalat Shubuh Dan Ashar

1044. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang bersembahyang shalat bardain - yakni shalat Subuh dan shalat Asar, maka ia akan masuk syurga." (Muttafaq 'alaih)

1045. Dari Abu Zuhairyaitu Umarah bin Ruwaibah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersembahyang sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya," yakni shalat Subuh dan shalat Asar. (Riwayat Muslim)

1046. Dari Jundub bin Sufyan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang bersembahyang Subuh, maka ia adalah dalam tanggungan Allah - yakni mengenai keselamatan dirinya dan Iain-Iain. Maka perhatikanlah, hai anak Adam - yakni manusia, janganlah sampai Allah itu menuntut kepadamu sesuatu dari tanggungannya." (Riwayat Muslim) 
Keterangan Hadis di atas harap dilihat dalam Hadis no. 388.

1047. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Berganti-gantilah untuk menyertai engkau semua beberapa malaikat di waktu malam dan beberapa malaikat di waktu siang. Mereka sama berkumpul dalam shalat Subuh dan shalat Asar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam denganmu semua itu, lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal sebenarnya Allah adalah lebih Maha Mengetahui tentang hal-ihwal hamba- hamba-Nya, tanyaNya: "Bagaimanakah engkau semua meninggalkan hamba-hambaKu?" lalu para malaikat itu menjawab: "Kita meninggalkan mereka dan mereka sedang melakukan shalat dan sewaktu kita mendatangi mereka itu, juga di waktu mereka melakukan shalat." (Muttafaq 'alaih)

1048. Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali r.a., katanya: "Kita semua ada di sisi Nabi s.a.w. Beliau s.a.w. lalu melihat bulan di malam bulan purnama - yakni tanggal empatbelas bulan hijriyah, kemudian beliau bersabda: "Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana engkau semua melihat bulan ini, tidak akan memperoleh kesukaran engkau semua dalam melihatNya itu. Maka jikalau engkau semua dapati tidak akan dialahkan oleh shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah itu," maksudnya jangan sampai dialahkan oleh sesuatu hal sehingga tidak melakukan kedua shalat itu dan jelasnya ini adalah merupakan perintah wajib. (Muttafaq 'alaih)
Dalam suatu riwayat disebutkan: "Beliau s.a.w. lalu melihat ke bulan pada malam bulan purnama itu - yakni bulan tanggal empatbelas."

1049. Dari Buraidah r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang meninggalkan shalat Asar, maka leburlah -yakni rusaklah - amal kelakuannya." (Riwayat Bukhari)

[ sumber : kitab riyadhus shalihin ]
[ Al-qur'an dan Hadits ]
by : http://mengarti.blogspot.com

Keutamaan Shalat

kitab riyadhus shalihin yang menerangkan tentang:
Bab 187
Keutamaan Shalat


Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari keburukan dan kemunkaran." (al- 'Ankabut: 45)

1039. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Adakah engkau semua mengetahui, andaikata pada pintu seseorang di antara engkau semua itu ada sebuah sungai dan ia mandi di situ sebanyak lima kali dalam sehari, apakah masih ada kotoran sekalipun sedikit yang tertinggal di badannya?" Para sahabat rnenjawab: "Tidak ada kotoran sedikitpun yang tertinggal di badan nya." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengan mengerjakan semua itu Allah akan menghapuskan semua kesalahan."

1040. Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaan shalat lima waktu itu adalah seumpama sebuah sungai yang mengalir, banyak airnya yang ada di pintu seseorang di antara engkau semua. la mandi di situ setiap hari lima kali." (Riwayat Muslim)

1041. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya ada seorang lelaki yang memberikan ciuman pada seseorang wanita - lain, lalu ia men-datangi Nabi s.a.w. kemudian memberitahukannya akan halnya. Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat-yang artinya: "Dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan beberapa saat dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu dapat melenyapkan kejelekan-kejelekan." Orang tadi lalu berkata: "Adakah ayat itu untuk saya saja?" Beliau s.a.w. bersabda: "Untuk seluruh ummatku." (Muttafaq 'alaih)

1042. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Shalat lima waktu, Jum'at yang satu sampai Jum'at yang lain adalah sebagai penutup dosa selama waktu antara semuanya - yakni antara waktu yang satu dengan waktu yang berikutnya, selama tidak dikerjakan dosa-dosa yang besar." (Riwayat Muslim)

1043. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang Muslimpun yang datang padanya shalat yang diwajibkan, lalu ia memperbaguskan wudhu'nya, kekhusyu'annya serta ruku'nya, melainkan shalat yang dilakukannya tadi akan menjadi penutup dosa-dosa yang dilakukan sebelum itu, selama tidak dikerjakan dosa besar. Yang sedemikian itu berlaku untuk setahun sepenuhnya." (Riwayat Muslim)

[ sumber : kitab riyadhus shalihin ]
[ Al-qur'an dan Hadits ]
by : http://mengarti.blogspot.com

29 September 2012

Keutamaan Berazan

kitab riyadhus shalihin yang menerangkan tentang:

Bab 186
Keutamaan Berazan

1030. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besar pahalanya berazan dan menempati saf pertama - di waktu shalat, kemudian mereka tidak menemukan jalan untuk memperolehnya itu melain-kan dengan cara mereka mengadakan undian, niscayalah mereka akan melakukan undian itu. Juga andaikata para manusia mengetahui betapa besar pahalanya datang lebih dulu - untuk melakukan shalat, niscayalah mereka akan berlomba-lomba untuk itu. Demi-kian pula andaikata mereka mengetahui betapa besar pahalanya shalat Isyak dan shalat Subuh - dengan berjamaah, niscayalah mereka akan mendatangi kedua shalat itu, sekalipun dengan ber-jalan merangkak." (Muttafaq 'alaih)
Alistiham artinya mengadakan undian dan Attahjir ialah datang paling awa! untuk mengerjakan shalat - di masjid.

1031. Dari Mu'awiyah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Para muazzin - ahli berazan - itu adalah sepanjang-panjang leher manusia besok pada hari kiamat."(Riwayat Muslim)

1032. Dari Abdullah bin Abdur Rahman bin Abu Sha'sha'ah bahwasanya Abu Said al-Khudri r.a. berkata padanya: "Sesungguhnya saya melihat engkau suka sekali pada kambing dan tempattempat di desa, maka jikalau engkau berada di tempat kambingmu atau di desamu, lalu engkau berazan untuk bersembahyang, maka keraskanlah suaramu dengan berazan itu, karena sesungguhnya tiada seorang jin, manusia atau sesuatu apapun yang mendengar dengungan suara muazzin itu, melainkan ia akan menjadi saksi untuknya pada hari kiamat." Abu Said berkata: "Saya mendengar yang sedemikian itu dari Rasulullah s.a.w." (Riwayat Bukhari)

1033. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "jikalau azan dibunyikan untuk shalat, maka membelakanglah syaitan - yakni lari ke belakang - sambil berkentut, sehingga ia tidak mendengar lagi suara azan tersebut. Selanjutnya jikalau azan sudah selesai, maka ia datang lagi, sehingga apabila dibunyikan iqamat, maka sekali lagi ia membelakang, kemudian apabila bunyi iqamat telah selesai datanglah ia kembali sehingga ia mengusikkan - yakni menggoda - antara seseorang itu dengan hatinya sendiri sambil mengucapkan: "Ingatlah ini dan ingatlah itu," yaitu sesuatu yang tidak diingatnya sebelum ia bersembahyang itu, sampai-sampai seseorang itu tidak lagi mengetahui, sudah berapa rakaat ia bersembahyang." (Muttafaq 'alaih)

1034. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:" Jikalau engkau mendengar azan, maka ucapkanlah sebagai-mana yang diucapkan oleh muazzin, kemudian bacalah shalawat untukku, karena sesungguhnya saja barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali shalawatan, maka Allah akan memberikan kerahmatan padanya sepuluh kali, selanjutnya mohonlah wasilah kepada Allah untukku, sebab sesungguhnya wasilah itu adalah suatu tingkat dalam syurga yang tidak patut diberikan melainkan kepada seseorang hamba dari sekian banyak hamba-hamba Allah dan saya mengharapkan agar sayalah hamba yang memperoleh tingkat wasilah tadi. Maka dari itu barangsiapa yang memohonkan wasilah untukku - kepada Allah, wajiblah ia memperoleh syafaatku." (Riwayat Muslim)

1035. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. .bersabda; "Jikalau engkau semua mendengar azan, maka ucapkanlah ,sebagaimana yang diucapkan oleh muazzin."(Muttafaq 'alaih)

1036. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang ketika - sudah selesai - mendengarkan azan lalu mengucapkan - yang artinya: "Ya Allah yang Maha Menguasai doa yang sempurna serta shalat yang akan didirikan ini, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan," maka akan dapatlah ia memperoleh syafaatku pada hari kiamat." (Riwayat Bukhari)

1037. Dari Said bin Abu Waqqash r.a. dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau bersabda: "Barangsiapa yang ketika - telah selesai - mendengarkan azan lalu mengucapkan - yang artinya: "Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan pesuruhNya. Saya rela dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Muhammad sebagai rasul dan dengan Islam sebagai agama," maka diampunkanlah dosanya." (Riwayat Muslim)

1038. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Doa itu tidak akan ditolak antara azan dan iqamah." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

[ sumber : kitab riyadhus shalihin ]
[ Al-qur'an dan Hadits ]
by : http://mengarti.blogspot.com

Keutamaan Berwudhu

kitab riyadhus shalihin yang menerangkan tentang:

Bab 185

Allah Ta'ala berfirman:
"Hai sekalian orang yang beriman! Jikalau engkau semua berdiri hendak bersembahyang, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku dan sapulah kepala dan basuhlah kakimu sampai ke matakaki. Dan jikalau engkau semua berjunub, maka sucikanlah dirimu - yakni mandilah. Dan jikalau engkau semua sakit atau dalam bepergian atau seseorang dari engkau semua datang dari buang air atau bersetubuh dengan wanita, lalu engkau semua tidak mendapat-kan air, maka cariiah tanah yang baik - atau bersih yang digunakan untuk bertayammum, kemudian sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak menghendaki untuk membuat kesempitan - kesukaran - atasmu semua, tetapi hendak menyucikan engkau semua dan menyempurnakan karunianya kepadamu semua, supaya engkau semua bersyukur." (al-Maidah: 6)

1021. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya ummatku itu akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya dari sebab bekas-bekasnya berwudhu'. Maka dari itu, barangsiapa yang dapat di antara engkau semua hendak memperpanjang - yakni menambahkan - bercahayanya, maka baiklah ia melakukannya - dengan menyempurnakan berwudhu' itu sesempurna mungkin." (Muttafaq 'alaih)

1022. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Saya mendengar kekasihku Rasulullah s.a.w. bersabda:"Perhiasan-perhiasan - di syurga - itu sampai dari tubuh seseorang mu'min, sesuai dengan anggota yang dicapai oleh wudhu'"yakni sampai di mana air itu menyentuh tubuhnya, sampai di situ pula perhiasan yang akan diperolehnya di syurga. (Riwayat Muslim)

1023. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang berwudhu' lalu memperbaguskan wudhu'-nya - yakni menyempurnakan sesempurna mungkin, maka keluar lah kesalahan-kesalahannya sehingga keluarnya itu sampai dari bawah kuku-kukunya."(Riwayat Muslim)

1024. Dari Usman bin Affan r.a. pula, katanya: "Saya melihat Rasulullah s.a.w. berwudhu' seperti wudhu'ku ini, kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang berwudhu' sedemikian, maka diampunkan-lah untuknya dosa-dosa yang telah lalu dan shalatnya serta jalannya ke masjid adalah sunnah hukumnya." (Riwayat Muslim)

1025. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila seseorang hamba yang Muslim atau mu'min itu berwudhu', lalu ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari muka-nya itu semua kesalahan yang disebabkan ia melihat padanya dengan kedua matanya dan keluarnya ialah beserta air atau beserta tetesan air yang terakhir. Jikalau ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya itu semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya beserta air atau beserta tetesan air yang terakhir. Selanjutnya apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah semua kesalahan yang dijalankan oleh kedua kakinya beserta air atau beserta tetesan air yang terakhir, sehingga akhirnya keluarlah ia dalam keadaan suci dari semua dosa." (Riwayat Muslim)

1026. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. mendatangi suatu kuburan lalu mengucapkan: "Assalamu 'alaikum, hai perumahan kaum mu'minin dan kita semua Insya Allah akan menyusul engkau semua. Saya ingin kalau kita semua sudah dapat melihat saudara-saudara kita." Para sahabat berkata: "Bukankah kita ini saudara-saudara Tuan, ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. menjawab: "Engkau semua adalah sahabat-sahabatku, sedang saudara-saudara kita itu masih belum datang lagi." Para sahabat berkata pula: "Bagaimanakah Tuan dapat mengetahui orang yang masih belum datang dari golongan ummat Tuan, ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. bersabda: "Bagaimanakah pendapatmu, sekiranya ada seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang putih bersih kepalanya, putih pula kaki-kakinya berada di samping kuda yang hitam polos, tidakkah pemilik itu dapat mengetahui kudanya sendiri?" Para sahabat menjawab: "Ya, tentu dapat, ya Rasulullah." Beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya ummatku yang akan datang itu ialah dalam keadaan bercahaya wajahnya serta putih bersih tubuhnya dari sebab berwudhu' dan saya adalah yang terlebih dulu dari mereka itu untuk datang ke telaga - haudh," (Riwayat Muslim)

1027. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat melebur semua kesalahan dan dengan-nya dapat pula menaikkan beberapa derajat?" Para sahabat men-jawab: "Baiklah, ya Rasulullah." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Yaitu menyempurnakan wudhu' sekalipun menemui beberapa hal yang tidak disenangi - seperti terlampau dingin dan sebagainya, banyaknya melangkahkan kaki untuk ke masjid dan menantikan shalat sesudah melakukan shalat. Itulah yang disebut ribath. Itulah yang disebut ribath - perjuangan menahan nafsu untuk memperbanyak ketaatan pada Tuhan." (Riwayat Muslim)

1028. Dari Abu Malik al-Asy'ari r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bersuci itu adalah separuh keimanan." Diriwayatkan oleh Imam Muslim 
dan sudah lalu kelengkapan-nya yang panjang dalam bab Sabar - lihat Hadis no. 25. Dalam bab ini termasuk pula Hadisnya 'Amr bin 'Abasah r.a. yang juga sudah diuraikan di muka dalam akhir bab Pengharapan. Hadis itu adalah suatu Hadis yang agung sekali yang memuat berbagai macam kebaikan.

1029. Dari Umar bin al-Khaththab r.a. dari Nabi s.a.w.,sabdanya: "Tiada seorangpun dari engkau semua yang berwudhu' lalu ia menyampaikan yakni menyempurnakan wudhu'nya, kemudian mengucapkan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh, melainkan di-bukakanlah untuknya pintu syurga yang delapan buah banyaknya. la diperbolehkan masuk dari pintu manapun juga yang dikehendaki olehnya." (Riwayat Muslim)
Imam Termidzi menambahkan ucapan di atas dengan: Alla-hummaj'alni minat tawwabina waj'alni minal mutatthahhirin, -artinya: Ya Allah, jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bersuci.

[ sumber : kitab riyadhus shalihin ]
[ Al-qur'an dan Hadits ]
by : http://mengarti.blogspot.com

Sunnahnya Berkumpul Untuk Membaca Al-Quran

kitab riyadhus shalihin yang menerangkan tentang:

Bab 184
Sunnahnya Berkumpul Untuk Membaca — Al-Quran

1019. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Pada suatu ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi s.a.w., lalu mendengar suara - pintu terbuka - di atasnya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: "Ini adalah pintu dari langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah sama sekali dibuka, melainkan pada hari ini." Kemudian turunlah dari pintu tadi seorang malaikat, lalu Jibril berkata: "Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak pernah turun samasekali, melainkan pada hari ini." Malaikat yang baru turun itu lalu memberi salam dan berkata: "Bergembiralah - hai Muhammad - dengan dua cahaya yang dikaruniakan kepada Tuan dan tidak pernah dikaruniakan kepada Nabi siapapun sebelum Tuan,yaitu fatihatul kitab-yakni surat al-Fatihah-dan beberapa ayat penghabisan dari surat al-Baqarah. Tidaklah Tuan membaca sehuruf dari keduanya itu, melainkan Tuan akan diberi - pahala besar." (Riwayat Muslim)
Annaqiidh artinya suara - seperti suara pintu dan Iain-Iain.

1020. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. .bersabda: "Tiada suatu kaumpun yang sama berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah - yakni masjid - sambil membaca Kitabullah dan saling bertadarus di antara mereka itu - yaitu berganti-gantian membacanya, melainkan turunlah ketenangan di atas mereka, serta mereka akan diliputi oleh kerahmatan dan diliputi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebutkan mereka itu kepada makhluk-makhluk yang ada di sisiNya - yakni para malaikat." (Riwayat Muslim)

[ sumber : kitab riyadhus shalihin ]
[ Al-qur'an dan Hadits ]
by : http://mengarti.blogspot.com

anjuran membaca surat atau ayat yang tertentu

kitab riyadhus shalihin yang menerangkan tentang:
Bab 183
Anjuran Membaca Surat-surat Atau Ayat-ayat Yang Tertentu

1006. Dari Abu Said, yaitu Rafi' bin al-Mu'alla r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku: "Tidakkah engkau suka jikalau saya mengajarkan padamu akan seagung-agung surat dalam al-Quran sebelum engkau keluar dari masjid?" Kemudian beliau s.a.w. mengambil tanganku. Setelah kita ingin hendak keluar, sayapun berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan tadi bersabda: "Sungguh-sungguh saya akan mengajarkan padamu seagung-agung surat dalam al-Quran." Beliaus.a.w. lalubersabda: "Seagung-agung suratialah Alhamduiillahi rabbil-'alamin - dan seterusnya. Itulah yang disebut Assab'ul matsani - yakni tujuh ayat banyaknya dan diulang-ulangi dua kali atau surat Alfatihah. Juga itulah yang disebut al-Quran al-'Azhim yang diberikan padaku." (Riwayat Bukhari)

1007. Dari Abu Said al-Khudri r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda mengenai surat Qulhuwallahuahad - yakni surat al-lkhlas, yaitu: "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya,sesungguhnya surat al-lkhlas itu niscayalah menyamai sepertiga al-Quran - mengenai pahala membacanya." 
Dalam riwayat lain disebutkan: Bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabatnya: "Apakah seseorang di antara engkau semua itu akan merasa lemah -tidak kuat - untuk membaca sepertiga al-Quran dalam satu malam?" Tentu saja hal itu dirasakan berat oleh mereka dan mereka berkata: "Siapakah di antara kita semua yang kuat melakukan itu, ya Rasulullah?" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: Qulhuwallahu ahad Allahush shamad adalah sepertiga al-Quran - yakni pahala membacanya menyamai membaca sepertiga al-Quran itu." (Riwayat Bukhari)

1008. Dari Abu Said al-Khudri r.a. pula bahwasanya ada seorang lelaki mendengar orang lelaki lain membaca: Qul huwallahu ahad, dan seterusnya - dan orang itu mengulang-ulanginya. Setelah datang pagi harinya, orang yang mendengar itu pergi ke tempat Rasulullah s.a.w. lalu menyebutkan pada beliau s.a.w. apa yang didengarnya, seolah-olah orang ini menganggapnya sebagai amalan yang kecil saja - kurang berarti. Kemudian Rasulultah s.a.w. ber- sabda: "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggamanNya, sesungguhnya surat al-lkhlas itu niscayalah menyamai - pahalanya dengan membaca - sepertiga al-Quran." (Riwayat Bukhari)

1009. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda mengenai Qul huwallahu ahad, yaitu: "Sesungguhnya surat ini adalah menyamai - pahalanya dengan membaca - sepertiga al-Quran." (Riwayat Muslim)

1010. Dari Anas r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya senang sekali pada surat ini, yaitu Qulhuwallahu ahad. Lalu beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya ke-cintaanmu pada surat itu akan dapat memasukkan engkau dalam syurga." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Imam Bukhari juga meriwayatkannya dalam kitab shahihnya sebagai ta'liq.

1011. Dari 'Uqbah bin 'Amir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Adakah engkau mengetahui beberapa ayat yang di- turunkan malam ini? Benar-benar tidak ada samasekali yang se-umpama dengan itu, yaitu surat Qul a'udzu birabbil falaq dan surat Qul a'udzu birabbin nas." (Riwayat Muslim)

1012. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. dahulunya selalu berta'awwudz - mohon perlindungan kepada Allah - dari gangguan jin dan mata manusia, sehingga turunlah dua surat mu'awwidzah - yaitu surat-surat Qul a'udzu birabbil falaq dan Qul a'udzu birabbin nas. Setelah kedua surat itu turun, lalu beliau s.a.w. mengambil keduanya itu saja - mengamalkannya - dan meninggalkan yang lain-lainnya." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1013. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setengah dari al-Quran itu ada sebuah surat yang jumlah ayatnya ada  tigapuluh buah. Surat itu dapat memberikan syafaat kepada seseorang - jikalau ia membacanya - sehingga orang itu diampuni, yaitu surat Tabarakal ladzi biyadihil mulk - yakni surat al-Mulk." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. 
Dalam riwayat Imam Abu Dawud disebutkan dengan meng-gunakan kata: tasyfa'u - sebagai gantinya "syafaat", artinya sama yaitu memberi syafaat.

1014. Dari Abu Mas'ud al-Badri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah di waktu malam - yaitu ayat Aamanar rasulu sampai akhir surat, maka kedua ayat itu mencukupinya." (Muttafaq 'alaih)
Dikatakan oleh para alim ulama bahwa arti kafataahu atau mencukupi orang tadi, maksudnya mencukupi dari apa yang tidak disenangi atau tidak diinginkan pada maiam itu. Ada pula yang mengartikan mencukupi dari berdiri untuk shalat malam.

1015. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua menjadikan rumah-rumahmu itu sebagai kuburan - yakni tidak pernah bersembahyang sunnah atau membaca al-Quran di dalamnya, sehingga sunyi-sunyi saja dari ibadat. Sesungguhnya syaitan itu lari dari rumah yang di dalamnya itu dibacakan surat al-Baqarah." (Riwayat Muslim)

1016. Dari Ubay bin Ka'ab r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Abul Mundzir, adakah engkau mengetahui, ayat manakah dari Kitabullah - yakni al-Quran - yang ada besertamu itu yang teragung?" Saya lalu menjawab: "Yaitu Allahu la ilaha ilia huwal hayyul qayyum, yakni ayat al-Kursi. Beliau s.a.w. lalu me-nepuk-nepuk dadaku dan bersabda: "Semoga engkau mudah memperoleh ilmu, hai Abul Mundzir." Beliau s.a.w. mendoakan demikian karena benar sekali apa yang diucapkan itu. (Riwayat Muslim)

1017. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya diserahi oleh Rasulullah s.a.w. untuk menjaga sesuatu dari hasil zakat Ramadhan-yakni zakat fitrah. Kemudian datanglah padaku seorang pendatang, Segeralah ia mulai mengambil makanan itu - sepenuh tangannya lalu diletakkan dalam wadah. Saya lalu menahannya terus berkata: "Sungguh-sungguh engkau akan saya hadapkan kepada Rasulullah s.a.w." Orang itu berkata: "Sesungguhnya saya ini adalah seorang yang sangat membutuhkan dan saya mempunyai tanggungan keluarga banyak serta saya mempunyai hajat yang sangat sekali -maksudnya amat fakirnya. Setelah itu iapun saya lepaskan - dengan membawa makanan secukupnya. Pada pagi harinya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Abu Hurairah, apakah yang dikerjakan oleh tawananmu - yakni orang yang kau pegang - tadi malam?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah, ia mengadukan bahwa ia mempunyai kebutuhan serta keluarga, lalu saya belas-kasihan padanya, maka dari itu saya lepaskan sekehendak jalannya - yakni sesuka hatinya pergi." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sebenarnya saja orang itu telah berdusta padamu dan ia akan kembali lagi." Jadi saya mengetahui bahwa ia akan kembali karena begitulah sabda Rasulullah s.a.w. Selanjutnya saya terus mengintipnya, tiba-tiba ia kembali lagi dan segera saja mengambil makanan lagi, lalu saya berkata: "Sungguh- sungguh saya akan menghadapkan engkau kepada Rasulullah s.a.w." Ia berkata: "Biarkanlah saja - sekali ini, sebab sesungguhnya saya adalah seorang yang amat membutuhkan dan saya mempunyai banyak keluarga yang menjadi tanggungan saya. Saya tidak akan kembali lagi." Sekali lagi saya menaruh belas- kasihan padanya, lalu saya lepaskan sekehendak jalannya. Pagi-pagi men-jelma, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda padaku: "Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?" Saya berkata: "la mengadukan lagi bahwa ia amat membutuhkan dan mempunyai banyak tanggungan keluarga, maka dari itu saya belas-kasihan padanya dan saya lepaskanlah sekehendak jalannya." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya ia berkata dusta padamu dan ia akan kembali lagi." Saya mengintipnya untuk ketiga kalinya. la datang dan terus mengambil makanan lalu saya tangkaplah ia, kemudian saya berkata: "Kini sungguh-sungguh saya akan meng-hadapkan engkau kepada Rasulullah s.a.w. dan ini adalah yang terakhir, karena untuk ketiga kalinya engkau datang, sedang engkau memastikan tidak akan datang, tetapi engkau datang lagi." Orang itu lalu berkata: "Biarkanlah aku - yakni supaya engkau lepaskan saja, sesungguhnya saya akan mengajarkan beberapa kalimat padamu yang dengannya itu Allah akan memberikan kemanfaatan padamu." Saya berkata: "Apakah kalimat-kalimat itu." la menjawab: "Jikalau engkau hendak menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat al-Kursi, karena sesungguhnya saja - kalau itu engkau baca, engkau akan senantiasa didampingi oleh seorang penjaga dari Allah dan engkau tidak akan didekati oleh syaitan sehingga engkau berpagi-pagi." Akhirnya orang itu saya lepaskan lagi sekehendak jalannya. Saya berpagi-pagi, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda padaku: "Apakah yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?" Saya menjawab: "la menyangka bahwa ia telah mengajarkan padaku beberapa kalimat yang dengannya itu Allah akan memberikan kemanfaatan padaku, lalu saya lepaskanlah ia menurut sekehendak jalannya." Beliau s.a.w. bertanya: "Apakah kalimat-kalimat itu?" Saya menjawab: "la berkata kepada saya: "Jikalau engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat al-Kursi sejak dari permulaannya sehingga engkau habiskan ayat itu sampai selesai, yaitu: Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum." la melanjutkan katanya kepada saya: "Jikalau itu engkau baca, maka engkau selalu akan didampingi oleh seorang penjaga dari Allah dan syaitan tidak akan mendekat padamu sehingga engkau berpagi-pagi." Nabi s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya ia telah berkata benar padamu - yakni kalau membaca ayat al-Kursi, maka akan terus mendapat penjagaan dari Allah, tetapi orang itu sendirisebenarnya adalah pendusta besar. Adakah engkau mengetahui, siapakah yang engkau ajak bicara selama tiga malam berturut-turut itu?" Saya menjawab: "Tidak." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Itu adalah syaitan." (Riwayat Bukhari)
Keterangan: Ayat al-Kursi yang dimaksudkan dalam Hadis di atas ialah sebagaimana yang tercantum di bawah ini dan sebelum membaca ayat tersebut, sebaiknya membaca Ta'awwudz dulu yaitu: A'udzu billahu minasy syatthanir rajiim, selanjutnya barulah membaca ayat al-Kursi yang tercantum dalam surat al- Baqarah ayat 255, bunyinya:
"Allah yang tiada Tuhan selain Dia itu, adalah Maha Hidup serta Berdiri sendiri - yakni tidak membutuhkan kepada yang selainNya. Dia tidak akan dihinggapi oleh rasa kantuk dan tidak pula pernah tidur. BagiNya adalah semua yang ada di langit dan di bumi. Dia Maha Mengetahui apa sajapun yang ada di muka mereka - yakni seluruh makhluk - dan apa saja yang ada di belakangnya. Siapakah yang kiranya dapat memberikan syafaat - pertoiongan - di sisiNya - baik sewaktu di dunia ataupun di akhirat nanti - melainkan dengan izinNya? Kursinya - yakni kerajaanNya - adalah meluas pada seluruh langit dan bumi dan Dia tidak akan tersibukkan datam memelihara keduanya - langit dan bumi - itu, karena Dia adalah Maha Tinggi serta Agung."

1018. Dari Abuddarda' r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayatdari permulaan surat al-Kahfi, maka ia terjaga dari gangguan Dajjal." Dalam riwayat lain disebutkan: "Dari akhir surat al-Kahfi." (Riwayat Muslim)

[ sumber : kitab riyadhus shalihin ]
[ Al-qur'an dan Hadits ]
by : http://mengarti.blogspot.com