kitab riyadhus sholihin yang menerangkan tentang:
Bab 119
Sifat Panjangnya Gamis, Iobang Tangan Baju, Sarung, |
Ujung Sorban Dan Haramnya Melemberehkan Sesuatu Dari
|
Yang Tersebut Di Atas Karena Maksud Kesombongan Dan
|
Kemakruhannya jikalau Tidak Karena maksud
|
Kesombongan
|
787. Dari Asma' binti Yazid al-Anshari radhiallahu 'anha, kata-nya:
|
"Lobang tangan gamisnya Rasulullah s.a.w. itu sampai pada pergelangan
|
tangan."
|
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
|
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
|
788. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
|
bersabda:
|
"Barangsiapa yang menarik bajunya - yakni melemberehkan sampai
|
menyentuh tanah, baik yang berupa baju, sarung dan Iain-lain - karena maksud
|
kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat -
|
maksudnya tidak akan dilihat dengan rasa keridhaan dan kerahmatan."
|
Abu Bakar lalu berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya sarungku itu
|
selalu melembereh saja - karena kurusnya badan, kecuali kalau saya
|
membenarkan lagi letaknya, misalnya dengan diikat keras-keras atau diangkat
|
ke atas." Maksudnya, apakah diancam dengan tin-dakan sebagaimana di atas itu.
|
Rasulullah s.a.w. lalu menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan
|
orang yang melaku-kan semacam rtu dengan maksud kesombongan," jadi tidak
|
apa-apa hukumnya.
|
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayat-kan
|
sebagiannya.
|
789. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
|
"Allah tidak akan melihat - dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan
|
- kepada orang yang menarik sarungnya - yakni melemberehkannya sampai
|
menyentuh tanah - karena maksud kecongkakan." (Muttafaq 'alaih)
|
790. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Apa yang
|
ada di bagian bawah dari kedua matakaki, maka akan dimasukkan dalam
|
neraka." (Riwayat Bukhari)
|
791. Dari Abu Zar r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Ada tiga macam orang
|
yang tidak diajak bicara oleh Allah - dengan pem-bicaraan keridhaan, tetapi
|
dibicarai dengan nada kemarahan - pada hari kiamat dan tidak pula dilihat
|
olehNya - dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan, serta tidak pula
|
disucikan olehNya -yakni dosa-dosanya tidak diampuni - dan mereka itu akan
|
men-dapatkan siksa yang menyakitkan sekali." Katanya: Rasulullah s.a.w.
|
membacakan kalimat di atas itu sampai tiga kali banyaknya.
|
Abu Zar kemudian berkata: "Mereka itu merugi serta menyesal sekali.
|
Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Rasulullah s.a.w. ber-sabda: "Yaitu orang
|
yang melemberehkan - pakaiannya sampai menyentuh tanah, orang yang
|
mengundat-undat - yakni sehabis memberikan sesuatu seperti sedekah dan Iain-
|
Iain lalu menyebutnyebutkan kebaikannya pada orang yang diberi itu dengan
|
maksud mengejek orang tadi - serta orang yang melakukan barangnya -
|
maksudnya membuat barang dagangan menjadi laku atau terjual -dengan jalan
|
bersumpah dusta - seperti mengatakan bahwa barangnya itu amat baik sekali
|
atau tidak ada duanya lagi." (Riwayat Muslim)
|
Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Almusbilu izarahu
|
yakni yang pertama ialah orang yang melemberehkan sarungnya - sampai
|
menyentuh tanah.
|
792. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
|
"Melemberehkan itu ada pada sarung, gamis dan sorban. Barangsiapa
|
yang menarik sesuatu - yakni melemberehkan sarung, gamis atau sorban -
|
dengan maksud kesombongan, maka Allah tidak akan melihatnya - dengan
|
pandangan keridhaan dan kerahmatan -pada hari kiamat."
|
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Nasa'i dengan isnad
|
yang baik.
|
793. Dari Abu Juraij yaitu Jabir bin Sulaim r.a., katanya: "Saya melihat ada
|
seorang lelaki yang orang-orang semuanya sama me-ngeluarkan uraiannya
|
berpokok pangkal dari pendapat orang tersebut. Orang itu tidak mengucapkan
|
sesuatu, melainkan orang-orang sama mengeluarkan uraiannya dengan
|
berpedoman dari ucapan orang tersebut. Saya bertanya: "Siapakah orang itu?"
|
Orang-orang sama menjawab: "Itu adalah Rasuiullah s.a.w." Saya lalu
|
mengucapkan '"Alaikas salam, ya Rasulullah," sampai dua kali. Rasulullah s.a.w.
|
lalu bersabda: "Jangan mengucapkan: 'Alaikas-salam, sebab 'Alaikas-salam
|
adalah sebagai penghormatan kepada orang-orang mati. Ucapkanlah: Assalamu
|
'alaik."
|
Jabir berkata: "Saya lalu bertanya: "Apakah anda itu Rasulullah." Beliau
|
s.a.w. menjawab: "Ya, saya adalah Rasulullah yakni utusan Allah. Allah ialah
|
yang apabila engkau ditimpa oleh sesuatu bahaya, kemudian engkau berdoa
|
padanya - supaya bahaya itu dilenyapkan, maka Allah pasti melapangkan
|
engkau dari bahaya tadi. juga jikalau engkau ditimpa oleh tahun paceklik -
|
bahaya kelaparan - lalu engkau berdoa padaNya, maka Allah akan
|
menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu dan jikalau engkau berada di suatu
|
tanah kersang atau di daerah yang tandus, kemudian engkau kehilangan ken-
|
daraanmu, kemudian engkau berdoa padaNya - mohon supaya diselamatkan,
|
maka Allah akan mengembalikan kendaraanmu itu padamu."
|
Jabir berkata: "Saya lalu berkata: "Berilah saya suatu perjanjian yang wajib
|
saya penuhi!" Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan sekali-kali engkau mencaci-maki
|
kepada seseorangpun."
|
Jabir berkata: "Sesudah saat itu saya tidak pernah lagi mencaci-maki
|
kepada siapapun, baik ia orang merdeka atau hamba sahaya, ataupun kepada
|
unta dan kambing."
|
Beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya: "Janganlah engkau meremehkan
|
sedikitpun dari perbuatan yang baik - yakni sekalipun tampaknya tidak berarti
|
dan kurang berharga, tetapi lakukanlah itu. Hendaklah engkau berbicara dengan
|
saudaramu dan engkau senantiasa menunjukkan muka yang manis padanya,
|
karena sesungguhnya yang sedemikian itu termasuk perbuatan yang baik.
|
Angkatlah sarungmu sampai kepertengahan betis, tetapi jikalau engkau enggan
|
berbuat semacam itu, maka bolehlah sampai pada kedua matakaki. Takutlah
|
pada perbuatan melemberehkan sarung, sebab sesung-guhnya yang sedemikian
|
itu termasuk kesombongan dan sesung-guhnya Allah itu tidak suka kepada
|
kesombongan. Jikalau ada seseorang yang mencaci-maki padamu atau mencela
|
dirimu dengan sesuatu yang ia tahu bahwa cela tadi memang ada dalam dirimu,
|
maka janganlah engkau membalas mencela padanya dengan sesuatu yang
|
engkau tahu bahwa cela itu memang ada dalam dirinya, sebab hanyasanya
|
tanggungan- yakni dosa - perbuatan itu adalah pada diri orang yang mencela
|
saja."
|
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnad
|
yang shahih dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan
|
shahih.
|
794. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Pada suatu ketika ada seorang
|
lelaki bersembahyang dengan melemberehkan sarungnya lalu Rasuiullah s.a.w.
|
bersabda padanya: "Pergilah dulu dan ber-Wudhu'lah." Kemudian orang
|
tersebut lalu pergi dan berwudhu'. Setelah itu ia datang lagi, lalu beliau s.a.w.
|
bersabda pula: "Pergilah dan berwudhu'lah!"Selanjutnya ada seorang lelaki lain
|
berkata: "Ya Rasulullah, mengapakah Tuan memerintahkan orang itu berwudhu'
|
kemudian Tuan berdiam saja padanya - yakni tidak menyuruh apa-apa lagi
|
padanya. Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya orang itu bersembahyang
|
dan ia melemberehkan sarungnya dan sesungguhnya Allah itu tidak akan
|
menerima shalatnya seseorang yang melembererikan sarungnya itu."
|
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang shahih atas
|
syarat Imam Muslim.
|
795. Dari Qais bin Bisyr at-Taghlibi, katanya: "Saya diberitahu oleh
|
ayahku dan ia adalah kawan erat pada Abuddarda', katanya: "Di Damsyik ada
|
seorang lelaki dari golongan para sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Ibnul
|
Handhaliyah. Ia adalah seorang yang suka menyendiri dan jarang sekali duduk-
|
duduk bersama dengan orang-orang banyak. Hanyasanya kerjanya ialah
|
bersembahyang dan jikalau selesai, maka kerjanya lagi hanyalah bertasbih dan
|
bertakbir, sehingga ia mendatangi tempat keluarganya lagi. Pada suatu ketika ia
|
berjalan melalui kita dan kita di saat itu berada di tempat Abuddarda', kemudian
|
Abuddarda' berkata padanya: "Berikanlah kepada kita sesuatu uraian yang
|
dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula menyebabkan
|
bahaya bagi anda."Orang itu lalu berkata: "Pada suatu ketika Rasulullah s.a.w.
|
mengirimkan sepasukan tentera, lalu datang. Ada seorang lelaki yang termasuk
|
juga dalam kalangan pasukan tadi datang terus duduk di tempat duduk yang
|
diduduki oleh Rasulullah s.a.w. kemudian orang itu berkata kepada orang yang
|
ada di dekatnya: "Andaikata anda mengetahui keadaan ketika kita bertemu
|
muka, yakni kita semua dan musuh, maka ada seseorang yang menyerang
|
musuhnya lalu menusuknya. Kemudian orang itu berkata: "Ambillah ini
|
daripada-ku. Saya adalah anak keturunan al-Ghifari." Bagaimanakah pendapat
|
anda dalam hal ucapannya itu?" Orang yang ada di dekatnya itu menjawab:
|
"Saya tidak mempunyai pendapat lain, kecuali bahwa pahala orang itu sudah
|
batal - yakni musnah karena kesombongannya dengan ucapannya tadi. Ada
|
orang lain yang juga mendengarkannya lalu ia berkata: "Saya tidak menganggap
|
bahwa ada sesuatu yang tidak baik karena adanya ucapannya yang sedemikian
|
tadi." Kedua orang - yakni yang berpendapat bahwa orang yang membunuh itu
|
lenyap pahalanya dan yang mengatakan tidak apa-apa - saling bertengkar
|
faham, sehingga Rasulullah s.a.w. mendengar persoalan tadi, kemudian
|
bersabda: "Maha Suci Allah! Tidak ada halangannya jikalau ia diberi pahala dan
|
dipuji." Saya - Bisyr -melihat pada Abuddarda' dan ia merasa gembira dengan
|
keterangan orang tersebut - yakni Ibnul Handhaliyah. Abuddarda' lalu meng-
|
angkat kepalanya melihat orang itu dan bertanya: "Anda mendengar sendirikah
|
yang sedemikian itu dari Rasulullah s.a.w.?" la menjawab: "Ya." Abuddarda'
|
mengulang-ulangi kata-katanya itu, sehingga saya pasti akan berkata:
|
"Hendaklah ia duduk saja pada kedua lututnya."
|
Bisyr - ayah Qais yang meriwayatkan Hadis ini - berkata: "Ibnul
|
Hanzhalah lalu berjalan melalui kita lagi pada suatu hari yang lain. Abuddarda'
|
berkata padanya: "Sudilah kiranya anda memberikan kepada kita suatu uraian
|
yang dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak menyebabkan
|
bahaya kepada anda." Orang itu berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda kepada
|
kita: "Orang yang memberikan perbelanjaan kepada kuda - untuk perang yaitu
|
dengan jalan menggembalanya, memberi minurn, makan dan segala yang
|
diperlukan dalam perawatannya - adalah sebagai orang yang membeberkan
|
tangannya dengan mengeluarkan sedekah tanpa menggenggamnya samasekali."
|
Selanjutnya pada hari yang lain lagi orang itu berjalan pula melalui kita, lalu
|
Abuddarda' berkata padanya: "Sudilah kiranya anda menguraikan
suatu uraian yang dapat meberikan kemanfa'atan kepada kita
dan tidak pula membahayakan anda." Oranng itu berkakta:"
|
Rasulullah s.a.w. bersabda;
|
"Sebaik-baik orang lelaki ialah Khuraim al-Usaidi, andaikata tidak panjang rambut
|
kepalanya dan tidak pula melemberehkan sarungnya." Sabda beliau s.a.w.
|
sampailah pada Khuraim, lalu cepat-cepat ia mengambil pisau kemudian ia
|
memotong rambut kepalanya dengan pisau tadi sampai pada kedua telinganya
|
serta mengangkat sarungnya sampai di pertengahan kedua betisnya. Pada suatu
|
hari yang lain lagi orang itu berjalan melalui kita pula, lalu Abuddarda' berkata
|
padanya: "Sudilah kiranya anda memberikan sebuah uraian kepada kita yang
|
dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula membahayakan
|
anda." Orang itu berkata: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
|
"Sesungguhnya engkau semua itu akan mendatangi saudara-saudaramu - yakni
|
sesama kaum mu'minin - maka perbaguskanlah kendaraan-kendaraanmu serta
perbaguskan pulahlah pakai-pakaianmu, sehingga engkau semua itu
|
merupakan seolah-olah sebagai tahi lalat - yakni menonjol tentang keondahan
|
tubuh dan pakaiannya - di kalangan para manusia, karena sesungguhnya
Allah itu tidak menyakai kepada keburukan-baik dalam ucapan,
|
pakaianmu.kelakuan dan Iain-Iain-juga tidak menyukai sesuatu yang sengaja
|
dimaksudkan untuk mengakibatkan keburukan."
|
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud isnad hasan, kecuali Qais bin Bisyr,
|
maka para ahli Hadis berselisih tentang dapatnya ia dipercaya atau tentang
|
kelemahannya dalam membawakan Hadis. Imam Muslim pernah meriwayatkan
|
orang ini.
|
796. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
|
"Cara bersarungnya seseorang Muslim itu ialah sampai pertengahan betis
|
dan tidak ada halangan serta tidak ada dosa untuk bersarung di antara
|
pertengahan betis itu sampai kepada kedua matakaki. Apa yang ada di bagian
|
bawah dari kedua matakaki, maka itulah yang akan dimasukkan dalam
|
neraka.Juga barangsiapa yang menarik - yakni melemberehkan sarungnya
sampai ,enyenyuh tanah- engan maksud kesombongan, maksud
|
kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah -dengan pandangan
|
keridhaan dan kerahmatan."
|
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
797. Dari Ibnu Umar radhiallahu ;anhuma, katanya: saya berjalam melalui Rasulullah s.a.w dan sarungkuk ada ynang mengelembreh, lalu beliau bersabda: Hai Abdullah, angkatlah sarungmu itu!" Lalu saya menambahkannya.Maka tidak henti-hentunya saya membenarkan letaaknya sesudah itu." Sebagian orang-orang sama berkata: Sampai di manakah mengangkatnya?" Ibnu Umar menjawab: "Sampai pertengahan kedua betis." (Riwayah Muslim)
|
798. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma pula, katanya: "Rasulullah
s.a.w. bersabda: Barnga siapa yanng menarik pakaiannya - yakni |
melemberehkannya - karena maksud kesombongan, maka Allah tidak akan
|
melihatnya - dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan - padanya pada hari
|
kiamat." Ummu Salamah bertanya: "Bagaimanakah kaum wanita berbuat dengan
|
ujung pakaiannya," maksudnya bahwa oleh sebab kaum wanita itu diperintah
|
menutupi seluruh tubuhnya karena merupakan aurat, maka apakah melem-
|
berehkan pakaian untuk kaum wanita itu juga berdosa? Beliau s.a.w. menjawab:
|
"Yaitu kalau mereka melemberehkannya itu sejengkaI." la berkata: "Kalau begitu
|
masih dapat terbuka kaki mereka itu." Beliau s.a.w. bersabda; "Bolehlah
|
melemberehkannya sampai se-hasta dan jangan menambahkan lagi."
|
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
|
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
|
[ sumber : kitab riyadhus-sholihin ]
[ Al-qur'an dan Hadits ]